Pendidikan Karakter Bangsa

Pendidikan adalah bagian membangun Karakter Bangsa.

Jokowi Bertemu Siswa SMP Disabilitas

Pelajar Disabilitas perlu diberi semangat, kesempatan, peluang dan pengembangan diri sehingga bisa Mandiri dan Berprestasi. Jokowi - JK untuk Kemandirian Bangsa.

Jokowi Bertemu Dengan Siswa PAUD dan TK

Pendidikan Usia Dini yang aman, nyaman dan menyenangkan akan menjadi modal utama dalam membentuk pribadi yang utuh, yaitu keseimbangan lahir, batin dan ruhiyah. Inilah awal pembangunan Karakter Bangsa.

Jokowi

Pemimpinan adalah ketegasan tanpa ragu.

Dekat dan Bimbing Generasi Muda

Beri Tauladan yang baik agar terbentuk Mental yang Tangguh. Jokowi Untuk Pendidikan Indonesia

Jokowi di Taman Siswa

Taman Siswa adalah cikal bakal pengembangan pendidikan di Indonesia.

JKW4P JK4WP 2014

Siap wujudkan Indonesia Hebat!

Showing posts with label Pendidikan Moral. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Moral. Show all posts

Jun 26, 2014

Instrumen Keimanan untuk Teguhkan Ideologi Siswa

Banyak problem pendidikan agama Islam yang belum secara tuntas diselesaikan dengan baik. Salah satunya adalah terkait dengan keimanan siswa madrasah/sekolah tingkat atas. Untuk itu dibutuhkan instrumen pengukuran keimanan bagi siswa madrasah aliyah.

Demikian ditegaskan oleh Dr H Shodiq Abdullah MAg saat mengikuti promosi doktor penelitian dan evaluasi pendidikan (PEP) Universitas Negeri Yogyakarta (26/6) di Aula Pascasarjana UNY Jl Karangmalang 1 Yogyakarta. Shodiq dinyatakan lulus doktor PEP Universitas Negeri Yogyakarta dengan predikat sangat memuaskan.

Di depan enam penguji, Shodiq mempertahankan disertasi berjudul "Pengembangan Instrumen Pengukuran Keimanan Siswa Madrasah Aliyah". Enam penguji dimaksud adalah Prof Dr Zuhdan Kun Prasetyo (Ketua), Prof Dr Badrun Kartowagiran (Sekretris), Prof Dr Sutrisno, Prof Dr Ajat Sudrajat, Prof Zamroni PhD dan Prof Kumaidi PhD. "Iman bagi agama Islam sangat penting karena kata iman disebut sebanyak 718 kali, namun soal iman masih jarang mempunyai alat ukur" ungkap dosen penelitian pendidikan IAIN Walisongo kelahiran Pati 5 Desember 1968.

Keimanan yang bagus merupakan tujuan utama pendidikan agama Islam, yakni membangun keberagamaan peserta didik agar menjadi sosok pribadi yang beriman, berilmu dan berakhlaq mulia. Jadi kalau pelajar itu mampu mempertahankan keimanannya, maka ia akan semakin dalam ilmunya sekaligus memiliki akhlaq mulia.

Keimanan tidak cukup hanya sebatas keyakinan dan pembenaran, tetapi iman seseorang perlu dikembangkan lebih luas sampai praktik keseharian. Maka konstruk teoritis keimanan itu dibagi menjadi dua, yaitu keyakinan yang berisi butir pernyataan hati terkait doktrin dan sikap atau perasaan dalam menghadapi realitas.

Ada 18 instrumen keimanan dalam aspek keyakinan yang dikembangkan, antara lain enam prinsip rukun Islam hingga meyakini seluruh kebenaran ajaran Islam. Adapun instumen sikap keimanan dijabarkan menjadi 17 butir, antara lain bersifat optimis, konsisten dan tidak mudah putus asa. "Masih banyak dimensi keimanan yang ditinggalkan oleh siswa, maka instrumen pengukuran ranah afektif ini tidak mudah tapi harus berani kita coba" ungkap Shodiq yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan IAIN Walisongo Semarang.

Instrumen keimanan ini dinilai sangat penting dalam meneguhkan semangat ideologis siswa. Apalagi di era globalisasi ini ada kecenderungan gaya berpikir bebas dalam lingkungan sekolah. Untuk itu, setiap siswa perlu diukur kemampun mempertahankan keimanannya baik dalam pikiran hingga perilaku. Dengan adanya keimanan yang kuat akan muncul kecenderungan untuk sukses mengawal pendidikan karakter dan insan yang cerdas akhlaknya.

Jun 17, 2014

Pendidikan dalam Keluarga

(Opini - Berita Satu)

Dalam era yang semakin modern, berbagai macam metode pendidikan terus berkembang: mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah sebagai lembaga pendidikan juga dipandang tak hanya sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Bagi sejumlah orangtua, sekolah juga sebagai penanda bahwa seperti apa mereka dan status pendidikan dalam masyarakat. Tak hanya itu, sekolah pun kini berlomba-lomba mengeluarkan berbagai macam strategi dalam mendidik anak. Berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, seperti PMR, Pramuka, sanggar seni, dan lainnya pun dikembangkan untuk mempersiapkan si anak kelak. Hal ini tentu dapat diterima karena kita tahu bahwa dunia semakin berkembang dan kita tak ingin tertinggal dengan pendidikan yang itu-itu saja.

Namun, terkadang ada hal yang mulai kurang diperhatikan oleh orangtua saat ini. Bagi beberapa yang sibuk dengan pekerjaan, mereka tidak sempat mengawasi perkembangan si anak. Mereka beranggapan bahwa dengan memasukkan anak ke sekolah yang bagus, sudah cukup. Padahal, pendidikan secara akademik tak cukup. Masih ada satu pendidikan yang juga penting, yaitu pendidikan moral.

Dalam realita kehidupan sehari-hari, banyak kita temui orang-orang yang berpendidikan tinggi, tetapi menjadi koruptor dan mereka yang kurang terdidik gampang dikelabui pihak lain. Dunia saat ini (bukan di Indonesia saja) sedang mengalami krisis moral. Hal ini berbanding terbalik dengan kecerdasan intelektual yang berkembang semakin pesat. Penyebab utama adalah masalah pendidikan, khususnya pendidikan dalam keluarga.

Pendewasaan dan Pematangan DiriPendidikan merupakan sistem proses perubahan menuju pendewasaan, pencerdasan, dan pematangan diri. Dewasa yang dimaksud adalah dalam hal perkembangan badan, kecerdasan, dan tingkat emosional dalam jiwa dan tingkah laku.

Pada dasarnya, pendidikan adalah wajib bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Pendidikan pertama kali diberikan oleh orangtua, di mana orangtua menanamkan nilai-nilai dasar dalam kehidupan si anak. Pada umumnya sekarang, orangtua memiliki keterbatasan waktu dan kemampuan. Orangtua lebih sibuk mencari nafkah demi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga tidak ada waktu khusus bagi anak-anaknya.

Orangtua terkadang juga tidak sempat merencanakan program untuk mendidik putra-putrinya, dan karena kesibukan pula mereka ketinggalan informasi mengenai pendidikan dan dengan mudah menyerahkan urusan pendidikan si anak sepenuhnya pada sekolah.

Dalam pendidikan keluarga, pendidikan mulai tumbuh dengan instingtif yang berupa kasih sayang, saling memberi, nilai pengertian, dan hubungan timbal-balik yang harmonis antara orangtua dengan anak-anak. Kemudian, pendidikan yang diberikan dalam keluarga juga melalui bukti empirik, seperti contoh, bimbingan, dan arahan. Kemudian memberikan pengetahuan rasional seperti bagaimana memecahkan masalah, menentukan pilihan, dan bagaimana membentuk sikap diri.

Semua hal di atas merupakan tanggung jawab orangtua terhadap anak. Dalam keluarga, anak mendapat perawatan dan bimbingan dalam rangka pembentukan sifat dan kepribadiannya. Yang perlu diperhatikan adalah, anak merupakan peniru yang baik. Mereka melihat bagaimana lingkungan sekitarnya bersikap, dan kemudian tanpa sadar menirunya. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai positif sejak dini sangat diperlukan.

Seperti yang telah diuraikan, keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam kegiatan pendidikan. Dalam kehidupan keluarga, nilai-nilai pengembangan potensi dan kecerdasan spiritual lebih ditekankan karena keluarga adalah tempat yang tepat bagi pertumbuhan kesadaran atas asal-mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan.

Pengetahuan kependidikan bagi orangtua paling tidak melingkupi dua hal, yaitu wawasan filosofi yang berisi pengetahuan tentang kesadaran moral bahwa anak bukan untuk dimiliki, namun untuk diasuh dan dibimbing menjadi manusia yang manusiawi dan kecakapan hidup yang berguna bagi kelangsungan dan perkembangan hidup si anak. Hasil yang diharapkan dari pembelajaran tersebut adalah membantu si anak membentuk sikap moralitas yang baik dan perilaku mandiri menuju pendidikan selanjutnya.

Sumber-sumber pendidikan moral dalam keluarga bisa didapatkan dari adat-istiadat, peradaban, kebudayaan, dan ajaran agama yang benar dan cocok untuk diterapkan dalam kehidupan berkeluarga. Dari sumber-sumber tersebut dapat diperoleh nilai-nilai moral yang mengakar pada nilai spiritual. Kecerdasan spiritual yang dimaksud adalah kesadaran atas asal mula dan tujuan hidup yang diharapkan menjadi jelas, dan potensi tersebut diyakini menjadi dasar dalam mengendalikan gerak langkah hidup yang lebih baik.

Oleh karena itu, keluarga wajib meletakkan landasan dasar spiritual dalam pendidikan anak berupa potensi nilai moral dan kemanusiaan. Karena pada dasarnya, manusia merupakan pemimpin (khalifatullah). Sifat dan hakikat pemimpin adalah kecenderungan moral untuk melanjutkan hidup dan kehidupan, dan keluarga berkewajiban menanamkan wawasan kehidupan berupa kesadaran tentang asal mula, tujuan, dan eksistensi kehidupan, agar tercipta generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia.

Jokowi Ingin Utamakan Pendidikan Akhlaq


Joko Widodo alias Jokowi menyatakan bahwa pembangunan manusia mutlak dilakukan. Menurutnya, revolusi mental yang diusungnya juga akan dilakukan di dunia pendidikan.

"Kita mau ke depan agar pendidikan mendahulukan pendidikan karakter, pendidikan akhlak, budi pekerti, sopan santun," ujarnya saat menghadiri deklarasi dan pengukuhan Jaringan Pelajar Nahdliyin (JPN) pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla di Jakarta, Rabu (28/5) malam.

Jokowi menambahkan, negara-negara yang maju bisa meloncat karena mementingkan pembangunan manusia, bukan pembangunan fisiknya. Ia mencontohkan Jepang yang pernah jatuh kemudian melakukan restorasi. "Yang dicari guru dulu, dosen dulu, karena dengan itu mereka akan bangun pendidikan," katanya.

Begitu juga dengan Jerman dan Korea Selatan yang justru menjadi lebih maju setelah jatuh karena selalu menomorsatukan pendidikan untuk pembangunan manusia.  "Jadi keliru kalau pembangunan manusia di nomor duakan. Kita ini selalu bicara infrastruktur, ekonomi tumbuh tapi, lupa pembangunan manusia. Lupa kita," katanya.

Jokowi juga mengkritisi pendidikan untuk anak-anak sekolah dasar (SD) yang lebih mengutamakan mata pelajaran hingga kebanyakan buku ajar. Sampai-sampai, katanya, murid SD harus membawa tas berat karena kebanyakan buku
“Semestinya pendidikan dasar harus menentukan akhlak, karakter dan moral ke depan. Ini yang harus dibalik nantinya," katanya.

Kemudian, kata dia, ketika SMP dinaikkan lagi porsinya 60 persen pendidikan karakter, akhlak, budi pekerja, sedangkan 40 persennya pengetahuan.

"Baru kalau SMA - SMK 20 persen, 80 persennya pengetahuan dan keterampilan. Kalau pengetahuan, keterampilan kuat dengan pondasi dasar akhlak, mental, budi pekerti baik, enak jadinya," katanya.(boy/jpnn)

Sumber : 
http://www.jpnn.com/read/2014/05/29/237200/Datangi-Pelajar-Nahdliyin,-Jokowi-Ingin-Utamakan-Pendidikan-Akhlak-

Jun 16, 2014

Anak-anak Gang Dolly Alami Trauma Psikologis


Jaringan Kemanusiaan Jawa Tmur (JKJT) mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk benar-benar memperhatikan nasib anak-anak yang tinggal di lokalisasi Dolly.

Ketua JKJT Tedja Bawana mengatakan, menyelamatkan anak-anak gang Dolly bukan hal yang mudah. Tidak bisa sekadar diberikan pendidikan saja, namun harus ditata kembali moral anak-anak itu.

“Anak-anak yang tumbuh besar dengan lingkungan seperti itu memiliki traumatik psikologis. Menyelamatkan anak-anak tidak bisa hanya diberikan pendidikan,tidak seperti itu,” kata Tedja.

“Mereka itu manusia, ada proses yang harus kita pahami. Ada pendekatan persuasif yang harus lebih kuat. Kita harus bisa menjadi bagian dari mereka,” tambahnya.

JKJT mengusulkan kepada Pemkot Surabaya untuk menggandeng CSR serta LSM yang peduli apak untuk memperbaiki psikologis anak-anak itu. Karena tidak mudah mengobati trauma Psikologis yang dialami anak-anak di Dolly.

Kemudian, lanjut Tedja, membuat gerakan semacam orang tua asuh, mengadopsi anak sesuai dengan peraturan yang ada. Namun, hak-anak anak harus dipenuhi terlebih dahulu, seperti memiliki akta kelahiran. Karena banyak anak di Dolly yang tidak jelas orangtuanya.

Editor: Antonius Eko
Sumber: http://www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/3284152_4262.html

Ini Alasan Risma Mati-Matian Tutup Lokalisasi Gang Dolly


Sejarah Gang Dolly di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur akan segera tamat pada tanggal 19 Juni mendatang. Ketenaran lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini, sebentar lagi hanya tinggal cerita yang turut mewarnai perjalanan sejarah Kota Pahlawan.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah memutuskan, semua lokalisasi di Kota Pahlawan, termasuk Gang Dolly dan Jarak, menyalahi Perda Nomor 7 tahun 1999, tentang larangan bangunan dijadikan tempat asusila.

Tak hanya itu, wali kota yang dijuluki si singa betina, karena ketegasan dan prinsipnya itu, juga ingin mengajak warganya untuk mencari rizki halal tanpa harus menjual tubuhnya di tempat lokalisasi. Untuk itu, dia berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dengan memberdayakannya sesuai skil mereka masing-masing.

Sebagai penunjang, Risma mengadakan pelatihan-pelatihan yang kelak bermanfaat. Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini, juga memberi bantuan modal hingga mantan penghuni lokalisasi bisa mandiri secara ekonomi.

Alasan yang ketiga, menyangkut masalah pendidikan moral anak-anak hingga usia remaja yang berada di sekitar lokalisasi. Mau tidak mau, geliat prostitusi akan berdampak pada psikologis anak-anak di sekitar lokalisasi. Dalam setiap kesempatan menyangkut masalah penutupan lokalisasi, Risma selalu mengungkapkan, dia pernah menemui PSK yang sudah berumur, tapi yang menjadi langganannya adalah anak-anak sekolah. Miris.

"Ini yang menjadi alasan utama Ibu Wali menutup semua lokalisasi di Surabaya. Rencana ini sudah lama. Sebelum penutupan, beliau sudah sering turun bertemu dengan warga sekitar lokalisasi. Pendekatan-pendekatan terus dilakukan. Bahkan, Polrestabes Surabaya pernah memfasilitasi pertemuan antara Ibu Wali dengan pihak warga," terang Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser saat berbincang-bincang dengan merdeka.com Selasa lalu (20/5).

Fikser juga mengungkap, untuk saat ini, menjelang penutupan memang ada banyak pertentangan, yang tak memungkinkan bagi Risma untuk menemui warga dan berdialog. 

"Pro dan kontra itu pasti. Dan kita akan tetap memikirkan agar tidak terjadi gejolak apalagi terjadi benturan fisik. Termasuk memikirkan nasib perekonomian mereka."

"Untuk saat ini, memang bagi Ibu Wali tidak memungkinkan untuk bertemu warga di lokalisasi. Karena sudah banyak kepentingan yang masuk di sana," lanjutnya.

Memang niat baik, tidak selalu berjalan mulus. Pro-kontra selalu ikut mewarnai niat tulus. Penghuni Dolly dan Jarak, didukung elemen Front Pekerja Lokalisasi (FPL), Gerakan Rakyat Bersatu (GRB) dan Paguyuban Arek Jawa Timur (Pagarjati) serta beberapa elemen lain, termasuk Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana ikut mewarnai pertentangan itu. Namun, pada hari Rabu lalu (21/5), saat menggelar pertemuan untuk kali kedua dengan warga Gang Dolly, matanya menjadi terbuka. Orang-orang yang dibelanya, jauh dari harapan. Politisi asal PDIP ini, terkesima dengan permintaan Ketua Pedagang Kaki Lima (PKL) di Gang Dolly, Gatot yang meminta ganti rugi usaha senilai Rp 1 miliar per kepala.

Mendengar itu, Whisnu menantang, jika orang-orang yang dibelanya tetap ngelunjak, dia akan membiarkan penutupan Gang Dolly tanpa solusi. 

"Jika itu terjadi, karena yang rugi warga sendiri. Mau tidak mau, 19 Juni, Dolly dan Jarak harus tutup. Sementara saya sudah memperjuangkan nasib warga terdampak dan konsep yang saya tawarkan disetujui Ibu Wali," kata Whisnu waktu itu.

Bahkan Whisnu membandingkan, jumlah pesangon atau ganti rugi warga di Dolly dan Jarak nilainya lebih besar dari empat lokalisasi yang sudah ditutup sebelumnya, yaitu Tambak Asri, Bangun Rejo, Sememi dan Klakah Rejo.

"Kalau tidak percaya, sampeyan (Anda) akan saya tunjukkan, apa yang saya perjuangkan untuk sampeyan-sampeyan itu nilainya jauh lebih besar, kalau tetap ngelunjak, saya bilang ditutup ya ditutup. Siapa yang rugi? Wong kalau mau ngomong salah ya salah, wong ini (Dolly) salah," kata Whisnu kesal.

Sementara itu, mesti memicu gejolak, rencana penutupan Gang Dolly dan Jarak, hingga saat ini setiap malam, masih menggeliat seperti hari-hari sebelumnya. Kehidupan malam, seolah tak terganggu dengan 'auman sang Singa Betina.'

Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-alasan-risma-tutup-lokalisasi-gang-dolly-mati-matian.html