Pendidikan Karakter Bangsa

Pendidikan adalah bagian membangun Karakter Bangsa.

Jokowi Bertemu Siswa SMP Disabilitas

Pelajar Disabilitas perlu diberi semangat, kesempatan, peluang dan pengembangan diri sehingga bisa Mandiri dan Berprestasi. Jokowi - JK untuk Kemandirian Bangsa.

Jokowi Bertemu Dengan Siswa PAUD dan TK

Pendidikan Usia Dini yang aman, nyaman dan menyenangkan akan menjadi modal utama dalam membentuk pribadi yang utuh, yaitu keseimbangan lahir, batin dan ruhiyah. Inilah awal pembangunan Karakter Bangsa.

Jokowi

Pemimpinan adalah ketegasan tanpa ragu.

Dekat dan Bimbing Generasi Muda

Beri Tauladan yang baik agar terbentuk Mental yang Tangguh. Jokowi Untuk Pendidikan Indonesia

Jokowi di Taman Siswa

Taman Siswa adalah cikal bakal pengembangan pendidikan di Indonesia.

JKW4P JK4WP 2014

Siap wujudkan Indonesia Hebat!

Jul 6, 2014

Pesantren Ramadan dan Pendidikan Karakter

SELAMA bulan Ramadan, sekolah atau madrasah di semua jenjang menyelenggarakan pesantren Ramadan. Meskipun pada tahun pelajaran 2014/2015, hari pertama masuk sudah memasuki minggu kedua dalam bulan Ramadan, sekolah atau madrasah tetap menyelenggarakan pesantren Ramadan, hanya saja jenis kegiatannya menyesuaikan. Kegiatan ini dimaksudkan agar peserta didik lebih mendalami agama Islam sekaligus
mempraktikkannya.

Pesantren Ramadan di sekolah atau madrasah ini, sebenarnya mendukung pendidikan karakter yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama. Adapun nilai-nilai karakter dalam pesantren ramadan adalah;

Pertama, nilai karakter religius. Yakni melatih siswa taat melaksanakan ajaran agama Islam dengan baik. Setiap hari sebelum pelajaran dimulai siswa membaca Alquran bersama-sama. Selain itu pada waktu istirahat siswa melaksanakan salat dhuha dan salat zuhur berjamaah. Bahkan tidak sedikit siswa melaksanakan salat asar berjamaah di sekolah.

Kedua, nilai karakter jujur. Puasa yang dilakukan siswa adalah bentuk karakter jujur. Ada guru atau orang yang mengawasi maupun tidak, setiap siswa harus berpuasa. Dengan kata lain yang mengetahui siswa berpuasa atau tidak adalah dirinya sendiri dan Allah SWT. Harapannya sikap jujur tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya siswa mengikuti ujian dengan jujur tanpa mencontek.

Ketiga, nilai karakter mandiri. Sikap kemandirian siswa dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ketiga tahapan tersebut dalam koordinasi dengan Guru Pendidikan Agama Islam dan Pembina Rohis. Sehingga karakter mandiri tersebut bermanfaat saat nanti siswa melanjutkan ke bangku kuliah dan di masyarakat.

Keempat, nilai karakter kerja keras. Seringkali adanya ibadah puasa menurunkan semangat belajar atau kerja seseorang. Kondisi tersebut tidak berlaku bagi siswa SMA Negeri 3 Semarang untuk menyemarakkan kegiatan Ramadan di sekolah. Mulai dari tadarus Alquran, penanaman Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa, salat dhuha, salat dzuhur dan asar berjamaah, peringatan Nuzulul Quran, kajian Islam, salat Jumat, zakat fitrah, lomba Islami, dan gebyar amal. Adanya berbagai kegiatan tersebut dalam bulan ramadan secara tidak langsung menanamkan kerja keras dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, nilai karakter toleransi. Kegiatan pesantren Ramadan menanamkan kepada siswa agar toleransi dengan orang lain yang berbeda pendapat maupun agama. Perbedaan pendapat dalam kajian Islam atau pembelajaran di kelas adalah rahmatal lil ‘alamin yang harus dihormati. Selain itu dengan siswa yang beragama lain, harus menghormati dengan memberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah.

Keenam, nilai karakter disiplin. Pesantren ramadan menanamkan kepada siswa agar terbiasa disiplin dalam aktifitas sehari-hari. Berpuasa bukan sebagai argumen pembenaran untuk datang terlambat baik di sekolah maupun di kelas. Begitu juga dalam pengumpulan tugas, siswa mengumpulkan sesuai dengan deadline yang disepakati sebelumnya.

Ketujuh, nilai karakter menghargai prestasi. Melalui perlombaan yang bernuansa Islami dalam pesantren ramadan, setidaknya nilai karakter menghargai prestasi dapat diterapkan. Siapa pun yang menjadi pemenangnya harus diterima dan diberi apresiasi, sedangkan bagi peserta kalah menerima dengan lapang dada.

Kedelapan, nilai karakter gemar membaca. Setidaknya dengan membiasakan membaca Alquran setiap mengawali pelajaran setiap hari, siswa terbiasa gemar membaca. Tidak hanya membaca Alquran tetapi juga membaca pengetahuan Islam dan umum. Aktivitas membaca awal merupakan jendela cakrawala dunia.

Kesembilan, nilai karakter kreatif. Pelaksanaan pesantren Ramadan di SMA Negeri 3 Semarang tidak hanya monoton yang sifatnya ubudiyyah, tetapi juga penampilan seni Islam. Setidaknya dengan adanya penammpilan seni Islam dalam peringatan Nuzulul Quran, siswa yang mengikuti tidak bosan. Kondisi tersebut secara tidak langsung mengajarkan kepada siswa bahwa Islam sangat kaya terhadap khazanah dan budaya Islam. Selain itu juga siswa diajak nonton film Islami. Setelah nonton film tersebut, siswa menggali hikmah yang dapat diambil hubungannya dengan ajaran Islam.

Kesepuluh, nilai karakter demokratis. Dalam pembahasan perencanaan pelaksanaan pesantren Ramadan, panitia menampung semua aspirasi siswa. Aspirasi siswa tersebut disalurkan melalui rapat panitia pesantren Ramadan. Masing-masing siswa mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam mengeluarkan pendapat. Hasil kesepakatan dalam musyawarah panitia, semua siswa dapat menerima hasilnya.

Kesebelas, nilai karakter rasa ingin tahu. Melalui kajian Islam dalam pesantren Ramadan, siswa belajar lebih tentang materi keislaman sebagai pengayaan Pendidikan Agama Islam. Dalam kesempatan tersebut, siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang berbagai hal tentang materi keislaman.

Kedua belas, nilai karakter cinta damai. Ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh alam semesta). Apabila ada masalah, musyawarah menjadi solusinya. Materi tersebut untuk membekali dan membentengi siswa dari aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam.

Ketiga belas, nilai karakter peduli lingkungan. Dalam kegiatan pesantren Ramadan, siswa ditekankan untuk peduli lingkungan yakni membuang sampah pada tempatnya sesuai kategori organik dan organik. Keempat belas, nilai karakter peduli sosial. Bentuk kegiatan yang dilakukan pengumpulan infak serta zakat fitrah dalam pesantren
Ramadan. Hasil zakat fitrah disalurkan untuk membantu siswa maupun masyarakat membutuhkan.

Dari keempat belas karakter tersebut menunjukkan kegiatan pesantren Ramadan adalah positif. Sekarang tergantung siswanya, ikhlas mengikuti kegiatan tersebut atau karena keterpaksaan?

HERY NUGROHO
Guru PAI dan Budi Pekerti SMAN 3 Semarang (hyk)

Sumber : http://ramadan.sindonews.com/read/880149/69/pesantren-ramadan-dan-pendidikan-karakter

Jul 5, 2014

Jokowi-JK Unggul Lagi Di Debat Terakhir


Capres dan cawapres nomor urut 2 Jokowi-Jusuf Kalla kembali unggul di media sosial saat mereka melakukan debat capres terakhir di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (5/7) malam.  

Hal itu dibuktikan dengan tampilnya hastag #Jokowi9Juli sebagai trending topic teratas di jejaring sosial Twitter hingga acara debat berakhir.  

Hastag “Jokowi9Juli” bahkan mengalahkan hastag “Pilih_No1 PrabowoHatta” yang berada di urutan kedua setelah kabarnya mendapat sokongan dari robot.

Peneliti muda dari Populis Institute David Krisna Alka menilai, keunggulan Jokowi di media sosial itu dimungkinkan, sebab dalam debat yang terdiri dari enam sesi itu, baik Jokowi maupun Jusuf Kalla tampil prima dan percaya diri.

“Keduanya tampak sangat menguasai masalah, terutama soal hutan lindung dan hutan produktif yang memang dikuasai Jokowi yang berlatar belakang pendidikan kehutanan,” kata David kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (5/7) malam.

Menurut David, publik, terutama netizen semakin bersimpati kepada Jokowi-Jusuf Kalla terutama setelah Hatta Rajasa melakukan kesalahan fatal saat bertanya tentang piala Adipura kepada Jokowi-JK.

Dalam debat itu, Hatta menyebut Adipura dengan Kalpataru.

Selain itu, Hatta juga melakukan kesalahan fatal, sebab ketika moderator memberikan kesempatan kepadanya untuk menanggapi pertanyaan Jokowi yang belum dijawab tuntas justru Hatta malah balik bertanya, dan moderator tidak memberikan kesempatan kepada Jokowi untuk menjawab, sebab memang bukan porsinya bagi Jokowi-JK untuk menjawab.

David juga menduga dalam debat tersebut, Prabowo-Hatta tampaknya memaksakan diri untuk balas dendam atas kekalahan dalam debat sebelumnya, sehingga di babak terakhir, keduanya membuka pertanyaan dengan kata-kata “setujukah bapak …”

Pertanyaan itu, menurut David, mengandung harapan agar Jokowi-JK sependapat dengan Prabowo-Hatta sehingga posisinya 1-1.

David memberikan apresiasi kepada moderator Rektor Universitas Diponegoro Prof. Sudharto P Hadi, PhD, yang disebutnya sangat tegas dan patuh pada aturan main.[L-8]

Sumber : http://www.suarapembaruan.com/home/jokowi-jk-unggul-lagi-di-debat-terakhir/58995

Netizen Dukung Jokowi-JK di Debat Pamungkas

Debat pamungkas antara pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mendapat perhatian serius netizen (pengguna aktif internet). Mereka pun mengapresiasi dalam bentuk hashtag atau tagar dukungan dan percakapan selama debat yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, malam tadi.

"Untuk Prabowo-Hatta ada beberapa hashtag, seperti #Pilih_No1_PrabowoHatta, #PilihPrabowo dan #PrabowoHatta. Sementara hashtag untuk Jokowi-JK antara lain #Jokowi9Juli, #Salam2jari dan #AkhirnyaMilihJokowi," kata pendiri PoliticaWave Yose Rizal dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Minggu (6/7/2014) dini hari.

Ia menambahkan. "Serta ada beberapa hashtag umum seperti #DebatCapres, #DebatCapresFinal dan #DebatCapresCawapres. Pada debat capres kali ini hanya #Jokowi9Juli yang berhasil menduduki peringkat pertama Trending Topic Worldwide dan #Pilih_No1_PrabowoHatta di peringkat ketiga Trending Topic Worldwide."

Yose menjelaskan, beberapa topik dalam debat berhasil mendapatkan respons besar dari netizen dan masuk menjadi Trending Topic Worldwide, yaitu Dukung PrabowoHatta Atau JokowiJK, Mungkin Bapak, Kalpataru, Pertanyaan Bapak, Yakin Pilih Prabowo, One Map Policy.

Segmen 1

Dia memaparkan pula, pada segmen 1 ada beberapa topik dari Prabowo-Hatta yang menarik perhatian netizen, yaitu Kedaulatan Pangan, Sustainable Development, Kualitas Udara dan Kualitas Tanah.

"Sementara beberapa topik dari Jokowi-JK yaitu Konversi Gas, Bukan Pidato, Listrik Padam dan Kebutuhan Pokok. Total percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 603 percakapan dan Jokowi-JK sebesar 2.249 percakapan. Ada 439 netizen yang melakukan percakapan tentang Prabowo-Hatta dan 1.335 netizen yang melakukan percakapan tentang Jokowi-JK. Net Sentimen (Margin percakapan positif dan negatif) Prabowo-Hatta sebesar 245 dan Jokowi-JK sebesar 1.473," urai Yose.

Segmen 2

Pada segmen 2 topik dari Prabowo-Hatta adalah 2 Juta Hektar, Pupuk Majemuk, Kehilangan Lahan dan Intensifikasi Lahan. Dari Jokowi-JK yang menarik perhatian netizen adalah Niat dan Kemauan, Pasar, Negara Agraris, Nilai Tambah dan Pasca Panen. Total percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 845 dan Jokowi-JK sebesar 2.937 . Ada 558 netizen yang melakukan  percakapan tentang Prabowo-Hatta dan 1.742 netizen yang melakukan percakapan tentang Jokowi-JK. Net Sentimen Prabowo-Hatta sebesar 411 dan Jokowi-JK sebesar 1.799.

Segmen 3

Pada segmen 3, beberapa topik dari Prabowo-Hatta yang menarik perhatian netizen adalah Energi Terbarukan, Renegosiasi, Sumur Tua, Kerusakan Lingkungan dan Daya Dukung. Beberapa topik yang menarik dari Jokowi-JK adalah Energi Terbarukan, Energi Melimpah dan Teknologi. Total percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 7.215 dan Jokowi-JK sebesar 24.188.Ada 3.853 netizen yang melakukan percakapan tentang Prabowo-Hatta dan 11.932 netizen yang melakukan percakapan tentang Jokowi-JK. Net Sentimen Prabowo-Hatta sebesar 4.335 dan Jokowi-JK 19.555.

Segmen 4

Pada segmen 4, beberapa topik menarik tentang Prabowo-Hatta adalah Menolak Impor, Masyarakat Asing dan Diversifikasi Teknologi. Sementara beberapa topik dari Jokowi-JK adalah Kerusakan Lingkungan, Pak Prabowo Salah Baca dan Kyoto Protocol. Jumlah percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 2.218 dan Jokowi-JK sebesar 5.504.Ada 1.302 netizen yang melakukan percakapan tentang Prabowo-Hatta dan 2.870 netizen yang melakukan percakapan tentang Jokowi-JK. Net Sentimen Prabowo-Hatta sebesar 1.231 dan Jokowi-JK sebesar 4.516.

Segmen 5

Pada segmen 5, beberapa topik dari Prabowo-Hatta adalah Koperasi, Saya Setuju dengan Pak Jokowi, Tidak ada Maling dan Jual Beli Suara. Beberapa topik dari Jokowi-JK adalah Kalpataru, Adipura, Pertanyaan Keliru dan Green City. Total percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 8.524 dan Jokowi-JK sebesar 19.803.Ada 5.103 netizen yang melakukan  percakapan tentang Prabowo-Hatta dan 10.615 netizen yang melakukan percakapan tentang Jokowi-JK. Net Sentimen Prabowo-Hatta sebesar 4.333 dan Jokowi-JK sebesar 12.686.

Segmen 6

Pada segmen 6, beberapa topik dari Prabowo-Hatta adalah Penegak Hukum dan Koalisi Merah Putih. Sementara topik dari Jokowi-JK adalah Konstitusi, Salam 2 Jari, Koalisi Tanpa Syarat dan Perubahan. Jumlah percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 3.179 dan Jokowi-JK sebesar 9.616.Ada 2.209 netizen yang melakukan  percakapan tentang Prabowo-Hatta dan 5.334 netizen yang melakukan percakapan tentang Jokowi-JK. Net Sentimen Prabowo-Hatta sebesar 1.097 dan Jokowi-JK sebesar 6.692.

"Secara keseluruhan debat dari 6 segmen, total percakapan tentang Prabowo-Hatta sebesar 22.584 dan Jokowi-JK sebesar 64.297. Net Sentimen Prabowo-Hatta sebesar 11.652 dan Jokowi-JK sebesar 46.721. Netizen mendukung pasangan Jokowi-JK di semua segmen pada Debat Capres yang terakhir," pungkas Yose Rizal.

- See more at: http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2073748/netizen-dukung-jokowi-jk-di-debat-pamungkas

Closing Statement Capres Jokowi pada Debat Terakhir


Bapak, Ibu, Saudara-Saudara Sekalian Sebangsa, dan Setanah Air.

Kita tahu semuanya, Negara kita Indonesia mempunyai masalah yang banyak, mempunyai problem yang banyak ... tapi memang kita meyakini bahwa setiap problem itu pasti ada jalan keluarnya, setiap problem itu pasti ada solusinya karena kita punya Pakar... Pakar yang ahli dibidang itu...

Tapi memang ada yang selalu menghalangi dan itulah yang harus kita kerjakan adalah kelompok-kelompok kepentingan tadi,... ya Mafia tadi...

Oleh sebab itu Jokowi-JK sejak awal menyatakan...

Kerjasama koalisi Tanpa Syarat,
Kami ingin hadir untuk membawa Perubahan !
Kami ingin hadir untuk membawa Terobosan !
Kami ingin hadir untuk membawa Langkah - Langkah yang Nyata !

Terimakasih kami sampaikan kepada seluruh Kader, kepada suluruh Relawan, kepada seluruh Rakyat Indonesia yang sudah bekerja keras untuk sebuah cita-cita bersama kita ...

Dan ingin saya tegaskan sekali lagi bahwa kami lahir, dibesarkan, dididik dan bekerja di Indonesia, Kami seutuhnya Indonesia !

Dan juga perlu kami tegaskan bahwa Jokowi-JK hanya tunduk pada konstitusi Indonesia dan.. Kehendak Rakyat, dan Kami Jokowi-JK selalu setia kepada Negara Republik Indonesia

Mari bersama kita berdoa...

Raabbanaa aatina fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban-naar

(red: Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.)

Wassalamua’alaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh...

Salam 2 Jari

Jul 3, 2014

Seri Revolusi Mental : Peran Pemuda dan Revolusi Mental


Sejarah mencatat bahwa pemuda merupakan inisiator banyak peristiwa penting yang menentukan nasib bangsa Indonesia. Pergerakan Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), proklamasi kemerdekaan (1945), sampai dengan pergerakan mahasiswa untuk reformasi (1998).adalah deretan peristiwa penting yang digawangi oleh pemuda. Sampai-sampai Bung Karno mengucapkan “Beri Aku 10 Pemuda, Akan Kuguncang Dunia”.

Tak terkecuali pada pemilu kali ini, peran penting pemuda pun terus berlanjut untuk mengawal bangsa ini, bukan dalam bentuk demontrasi atau perang namun dalam bentuk partisipasi dalam pemilu 2014. Suara pemuda akan menentukan profile pemerintah di masa datang. Melalui profile pemerintah yang bagus maka akan tercipta kebijakan yang melahirkan kondisi ekonomi yang baik pula. Oleh karena itu, sebagai pemuda kita tidak boleh apatis, karena pemilu kali ini adalah momen bagi Indoensia untuk bangkit.

Peran pemuda penting tersebut bukan karena kebetulan namun didasari alasan sebagai berikut:

Yang pertama, pemuda itu sebagai agen perubahan (change maker). Suara pemuda punya pengaruh yang signifikan di pemilu kali ini. Dari segi jumlah, menurut Center for Election and Political Party Universitas Indonesia (UI) bahwa sekitar 53 juta adalah pemilih muda (usia 17-29 tahun) yang terdaftar sebagai pemilih atau 20-30%nya. Suara yang signifikan tersebut akan menentukan profile pemerintahan kedepan. So, jika menginginkan perubahan maka suara pemuda harus aktif mengawal pemilu.

Yang kedua, selain dari jumlah, pemuda juga dicirikan dengan golongan yang rasional, aktif dan kritis. Mereka adalah generasi yang melek informasi sehingga pilihan pemuda didasari oleh banyak informasi. Pilihan golongan ini akan mencerminkan pilihan yang rasional yang nantinya akan menghasilkan pemimpin yang ideal pula.

Yang ketiga, tahun 2025-2030 adalah tahun puncak Indonesia mendapatkan bonus demografi. Bonus demografi dicirikan dengan jumlah usia produktif yg lebih besar dibanding usia tua. Kondisi tersebut bisa menjadi bonus maupun bencana bagi Indonesia. Divsatu sisi bonus demografi bisa meningkatkan angka produktifitas namun disisi lain angkatan muda yang banyak energi namun minim keahlian akan menyebabkan pengangguran usia produktif, yang akhirnya bisa menimbulkan kerawanan sosial.

Kondisi di atas sangat tergantung kebijakan oleh pemerintah dan peran masyarakat. Oleh karena itu, profile pemerintah yang terpilih nanti harus mempunyai visi-misi dan track record untuk menjadikan momentum ini benar-benar menjadi bonus bagi Indonesia. Di situlah peran suara pemuda, pemilu kali ini pemuda punya peran untuk selektif memilih pemimpin yang mempunyai kemampuan untuk menjadikan momentum bonus demografi menjadi berkah bagi bangsa ini.

Tidak boleh terlambat, persiapan itu harus dimulai sekarang karena karena usia 15 tahun saat ini maka pada tahun 2030 akan berusia 30 tahun (usia produktif). Jadi investasi Sumber daya manusia saat ini akan dipanen pada tahun 2030 (periode puncak bonus demografi). Karena pentingnya persiapan tersebut, maka kebijakan 5 tahun mendatang akan  berpengaruh dalam jangka panjang bagi Negara ini.

Untuk menjawab momentum ini, terdapat ide menarik yakni revolusi mental. Program ini akan membangun character bulding dengan merubah mind-set dari bangsa mental buruh menjadi mental yang tahan banting.
Program ini diinisiasi Jokowi dan bertujuan untuk peningkatan taraf hidup rakyat melalui pendidikan dan memberikan semangat agar rakyat berusaha. Dari segi ekonomi, hal ini akan memberikan dampak meningkatkan nilai produktifitas suatu bangsa dan akhirnya akan meningkatkan nilai produksi disuatu bangsa. Tercatat bahwa, suatu bangsa yang maju akan mempunyai nilai produktifitas yang lebih tinggi. Jika kondisi ini tercapai maka memberikan efek berantai, tingginya produktifas akan meningkatkan pendapatan perkapita nasional. Peningkatan ini merupakan ciri sebagai negara maju.

Intinya, diperlukan program segar dan pemimpin yang visioner untuk menahkodai bangsa ini supaya bisa tinggal landas. (Isman Anshori - pasca sarjana ilmu ekonomi FE-UI, relawan Generasi Optimis. Twitter: @isman_a)

Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/07/02/seri-revolusi-mental-6-peran-pemuda-dan-revolusi-mental

Seri Revolusi Mental : Kita adalah Harapan


“Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga dia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa dia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional” – Bertolt Brecht

Wajah perpolitikan negeri sudah sedemikian suram. Partai politik yang seyogyanya memperjuangkan aspirasi rakyat, malah sebaliknya justru mempertontonkan perilaku politik yang kurang elok. Apapun dilakukan untuk memperoleh dukungan. Masa bodoh yang penting ambisi kekuasaan tercapai.

Janji–janji manis calon pemimpin pada saat kampanye sunggulah menggugah. Walaupun pada akhirnya, janji tinggal janji. Tidak ada perubahan yang dirasakan untuk menjadi lebih baik. Rakyat dibohongi, termakan janji politisi pemberi harapan palsu. Omong kosong yang nyaring bunyinya.

Rakyat Indonesia sungguh mendambakan sosok pemimpin tulus yang mampu mewujudkan harapan atas kesejahteraan. Kita butuh seorang sosok yang bisa menjadi teladan dan mampu menerobos kebuntuan politik selama ini. Rakyat ingin pemimpin baru yang mampu mengembalikan kepercayaan rakyat pada proses politik.

Saya rasa mungkin sekarang saat yang tepat. Pemilihan presiden sudah di depan mata. Sebentar lagi Indonesia mempunyai presiden yang baru. Kali ini menarik. Calon presiden saling membenturkan kepalanya, head to head. Mari kita pilih calon yang terbaik diantara dua yang ada.

Pilih sosok yang dianggap mampu mewujudkan mimpi kita terhadap Indonesia. Pilih orang yang sudah terbukti kinerjanya, karena presiden bukan ajang coba-coba berhadiah. Jangan pilih calon presiden yang masih berbau-bau politik kelam masa lalu. Kita butuh pemimpin yang segar, harapan baru. Untuk Indonesia Baru.

Saya tidak memilih untuk diam dan mendiamkan. Dan dengan sadar saya mendukung Jokowi sebagai presiden republik yang saya cintai ini. Bagi saya, beliau memang yang terbaik.
Untuk itu, mungkin saya perlu sedikit bercerita …

Solo Karir
Segar dalam ingatan, sekitar pertengahan tahun 2011 yang lalu, ketika masih menjadi mahasiswa semester 4, saya berkesempatan melakukan Studi Lapangan ke Solo untuk meninjau langsung pengembangan perkotaan di sana. Dosen saya mengatakan bahwa Walikota Solo saat itu menggunakan pendekatan manusiawi dalam melakukan penataan kota. Atau dalam istilah perkotaan disebut “Urban Humanism”, sebuah kota yang manusiawi. Seketika saya  penasaran, siapa gerangan disana yang oleh banyak  orang disebut sebagai Walikota cerdas.

Siapa lagi kalo bukan Joko Widodo alias Jokowi. Beliau berhasil membuat kota Solo menjadi sebuah kota yang nyaman sebagai tempat tinggal, sekaligus menarik untuk dijadikan tempat wisata. Dengan pendekatan manusiawi, beberapa program yang dilaksanakan seperti, penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), revitalisasi ruang publik, pembenahan transportasi publik, penataan pasar, reformasi birokrasi dan banyak lagi program  lainnya. Warga Solo merespon dengan suka cita, terbukti pada pemilihan walikota periode kedua, beliau mendapat suara signifikan mencapai 90%, tanpa perlu menebar  atribut  kampanye. Sungguh Jokowi pemimpin yang dicintai warganya.

Semua hal baik yang dilakukan di Solo itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang mempunyai niat tulus untuk memimpin dan membawa daerahnya menjadi lebih baik. Inilah fakta yang ada pada diri Jokowi. Lantas, sejak saat itu, saya tertarik pada sosok nyentrik ini. Namanya selalu melekat dalam ingatan.
Program terobosan yang paling yahud bisa jadi mengenai metode “makan siang” untuk memindahkan 989 PKL ke Pasar Klithikan tanpa ada konflik sedikitpun. Padahal di tempat lain, hampir setiap ada relokasi muncul konfilk, hampir pasti ada air mata yang tumpah. Petugas Satpol PP mencopot lapak PKL dengan paksa, kemudian para PKL tidak terima, melakukan perlawanan sampai baku pukul dan hal-hal pemberontakan lainnya.

Tapi di Solo beda. Jokowi sebagai walikota mengajak para PKL makan siang sebanyak 54 kali. Kemudian, dengan perlahan diberi pengertian terkait dengan relokasi. Dibicarakan terkait relokasi yang akan memperindah wajah kota dan menguntungkan dari segi ekonomi.

Ternyata ampuh terbukti, bahwa bicara dengan hati, diterima juga oleh hati. Para pedagang membongkar sendiri lapak dagangannya, kemudian membuat parade arak-arakan PKL menuju lokasi PKL yang baru. Jokowi langsung yang memimpin arak-arakannya. Pedagang merayakan relokasi dengan suka cita. Sebuah pemandangan yang aneh tak biasa. Index of Happiness warga Solo meningkat. Semua senang dan bahkan dengan bangga melakukan relokasi. Pendekatan manusiawi yang bahkan sesederhana ini jarang kita temui pada pemerintah daerah lain.

Dari sini bisa terlihat bahwa Jokowi memang pemimpin yang revolusioner, kaya akan ide, menerobos cara-cara khas penguasa birokrat yang kaku. Beliau paham betul mengambil hati rakyat kecil. Jokowi melakukan pendekatan yang membuat rakyat nyaman. Hanya makan siang. Masyarakat merasa dimanusiakan, merasa dihargai. Diajak diskusi sambil makan siang santai bersama pemimpinnya. Kelihatan sederhana namun dampaknya jelas, timbul kepercayaan yang kuat.  Kepercayaan rakyat kepada pemimpin untuk membawanya ke kehidupan yang lebih baik. Bukankah memang begini seharusnya?

Jokowi memang selalu menempatkan posisinya sebagai seorang pelayan rakyat. Jokowi menganggap rakyat sebagai investor. Mungkin karena Jokowi sudah biasa bergelut di dunia usaha, beliau menggunakan naluri kewirausahaannya dalam memimpin kota. Jokowi menganggap bahwa rakyat adalah investornya, dan dirinya hanya kebetulan diberi amanah oleh rakyat sebagai pemimpin. Oleh karena itu, rakyat harus didengar, diberi perhatian, dihargai dan bahkan dimanjakan. Semua yang dilakukan semata-mata untuk mewujudkan keinginan rakyat atas kesejahteraan. Begitulah kira-kira.

Inilah faktanya. Kerja keras Jokowi bukan omong kosong. Keberhasilannya memimpin Solo tidak hanya diakui oleh warga Solo, namun hingga dunia internasional. Buktinya, situs worldmayor.com menobatkan beliau sebagai peringkat ketiga Walikota terbaik di dunia tahun 2012. Bersaing dengan Walikota Bilbao, Spanyol, Inaki Azkuna, dan Wali Kota Perth, Australia, Lisa Scaffidi. Sungguh Jokowi memang Walikota yang hebat.

Harapan Rakyat
Berhasil di Solo, kemudian rakyat menantang Jokowi untuk menyelesaikan permasalahan kota yang jauh lebih besar. DKI Jakarta. Jokowi dipandang mampu mengurai masalah Jakarta yang sudah sedemikian kompleks. Warga Jakarta menunjuk Jokowi sebagai pemimpin, beliau memenangkan pilkada dengan suara yang fantastis dan menjadi orang nomer satu di Ibukota republik ini mengalahkan gubernur petahana Fauzi Bowo.

Sulit rasanya kita bayangkan, seseorang dari kalangan biasa berwatak Jawa bekas tukang kayu -wajah kampungan, bisa menjadi orang nomer satu di kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk kerasnya wajah kota. Inilah orang ndeso yang memimpin pasukan perang meredam keserakahan para kaum kapitalis ibukota.

 “Biar wajah saya kampungan, yang penting otaknya internasional,” kata Jokowi berkelakar.
Diakui atau tidak, hal ini menjadi fenomena menggembirakan di negeri kita. Jokowi menebar harapan. Orang-orang yang dulunya pesimis akan kondisi negeri, perlahan menengok dan memandang kearah Jokowi dengan penuh harapan. Mereka mendekat, memberi tepuk tangan dan menyalami Jokowi. Inilah kegembiraan politik. Rakyat menjadi getol politik. Di pasar, di warung kopi hingga ke sudut-sudut gang terpencil, semua sumringah atas kehadiran sosok pembaharuan ini. Politik menjadi familiar. Politik tidak lagi menakutkan. Politik kembali menjadi milik rakyat, bukan hanya milik pejabat, apalagi pengusaha kaya raya.
Jokowi menyalakan lilin harapan perubahan di antara cerita suram negeri ini.

Yang tak kalah menariknya, Jokowi mempopulerkan lagi istilah “blusukan”.  Beliau mengaku sering menghabiskan waktunya hanya 2 jam di kantor, selebihnya lebih senang langsung turun ke lapangan. Beliau berulang kali mengatakan bahwa permasalahan rakyat tidak bisa hanya diselesaikan dari ruangan ber-AC, namun lebih baik berpanas-panasan turun ke lapangan melihat permasalahan, memutuskan tindakan cepat dan berani mengambil resiko. Prinsip Jokowi, seorang pemimpin harus bersentuhan dengan rakyat, harus berkeringat bareng rakyat, setiap hari.

“Semua ini hanya masalah niat atau tidak niat, mau atau tidak mau!” Jokowi
Tak bisa dipungkiri, metode blusukan inilah yang lantas melambungkan nama Jokowi di berbagai media. Puja dan puji meluncur deras dari berbagai kalangan masyarakat.

Ini baru namanya pemimpin. Ini pemimpin yang kita butuhkan. Pemimpin merakyat. Kata seseorang di warung kopi.

Lantas, atas kinerjanya sebagai Gubernur Jakarta, belum genap 2 tahun, lagi-lagi, Jokowi dihadapkan pada sebuah tugas rakyat. Kali ini diberi tugas yang sangat berat. Tidak hanya lingkup kota atau provinsi. Masyarakat Indonesia menginginkan Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia. Mengurusi 250 jutaan rakyat yang bosan dengan retorika politisi yang hanya pintar membual, namun minim tindakan.

Awalnya Jokowi terkesan ragu-ragu. Meskipun survei elektabilitas selalu mendapat perolehan teratas –di saat tokoh-tokoh lain sudah berlomba menjual citra pada publik demi meraup simpati rakyat. Jokowi mengaku belum memikirkan sampai sejauh itu. Beliau mengatakan hanya berfokus pada permasalahan Jakarta, menyelesaikan macet dan banjir yang semakin keterlaluan.

Saya kira, dalam konteks kehidupan berdemokrasi, apa yang beliau katakan pada saat itu sangatlah masuk akal. Beliau berpikir realistis. Biar bagaimanapun juga beliau adalah seorang kader biasa partai. Bukan ketua umum partai yang notabene mempunyai kesempatan yang lebih mungkin untuk meraih posisi calon RI-1. Jadi, Jokowi tidak bisa seenak jidat mencalonkan diri dengan menggunakan kekuatan partai untuk semata-mata mengejar ambisi menjadi Presiden. Semuanya harus melalui mekanisme partai tempat beliau bernaung.
Dari sini, saya lihat Jokowi yang konsisten. Beliau membiarkan rakyat yang menilai. Tugas sebagai Gubernur Jakarta dikerjakannya sebaik mungkin. Wacana copras-capres tidak mempengaruhi  fokusnya  menyelesaikan macet dan banjir Jakarta.

Saya percaya, pemimpin yang baik bukan dia yang berambisi menjadi pemimpin, namun justru orang  yang tidak berambisi dan hanya menyerahkan semua pada keputusan banyak orang. Pemimpin akan siap jika ditugaskan. Karena menjadi pemimpin rakyat adalah sebuah pengabdian, bukan semata-mata mengejar jabatan. (Made Bhela Sanji Buana, Alumni PWK UGM, relawan Generasi Optimis. Twitter: @madebhela)

Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/07/02/seri-revolusi-mental-7-kita-adalah-harapan

Seri Revolusi Mental : Empati Menumbuhkan Optimisme Bangsa


Kemajuan sebuah negara bukan terletak pada kekayaan alamnya.

Indonesia masa kini didera berbagai masalah, baik sosial maupun ekonomi, yang datang bertubi-tubi seakan tanpa henti. Ini diperparah dengan kehadiran negara yang minim. Ini membuat sebagian dari kita menjadi galau, bahkan frustasi. Apa yang bisa dilakukan oleh bangsa ini menghadapi situasi tersebut?

Mari kita melihat ke dalam diri bangsa ini. Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam berupa bahan-bahan tambang dan mineral yang begitu banyak dan beragam. Tanahnya yang subur dan berada di iklim tropis membuat kita dianugerahi berbagai macam kekayaan hayati. Keragaman budaya dari berbagai suku di Indonesia pun telah diakui sebagai yang paling kaya di dunia. Namun kekayaan ini belum bisa dikonversi menjadi kesejahteraan yang berkeadilan bagi rakyatnya.

Di sisi lain, negara-negara lain yang tidak memiliki kekayaan alam justru bisa terus maju. Korea Selatan dan Singapura misalnya. Ini mengindikasikan bahwa kemajuan sebuah negara bukan terletak pada kekayaan alamnya. Jika melihat bagaimana kedua negara tersebut membangun dirinya, akan didapati bahwa aspek manusia menjadi penentu. Lebih detail, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor kuncinya.
Pertanyaannya, apakah bangsa Indonesia telah memiliki manusia yang cukup berkualitas? Secara individu, orang Indonesia tidak kalah hebat dibandingkan dengan mereka yang berasal dari bangsa-bangsa yang telah maju. Bahkan, beberapa ilmuwan Indonesia laris manis dikontrak oleh negara-negara tersebut. Sebagai contoh, negara Jepang banyak memperkerjakan pemuda Indonesia untuk menjalankan riset-riset berteknologi tinggi.

Lalu mengapa Indonesia masih terpuruk? Salah satu jawabannya adalah, bangsa ini masih gagap dalam memberdayakan manusia-manusianya. Banyak ilmuwan harus pusing karena kekurangan dana, minimnya fasilitas, dan samarnya arah kebijakan iptek. Orang-orang baik dan pintar harus rela terlempar karena tidak diberikan ruang di dalam organisasi pemerintahan. Pengusaha-pengusaha nasional mesti berjibaku dengan raksasa-raksasa asing yang menyerbu tanpa pandang bulu. Sementara itu, inisiatif-inisiatif warga kian tergerus oleh kebijakan negara yang tidak ambil pusing dengan kepentingan rakyat kecil.

Di titik ini lah bangsa Indonesia harus mereorganisasi dirinya. Merapatkan barisan dan membangun visi bersama.  Tujuannya, agar rakyat berdaya secara kolektif, baik dalam sisi karakter maupun kapasitas pengetahuan dan teknologinya.

Namun perlu diperhatikan pula bahwa manusia-manusia Indonesia sangat beragam. Oleh karena itu, pengorganisasian tersebut harus ditumbuhkan di atas paradigma yang melihat keberagaman sebagai sebuah kekayaan agar kita bisa saling belajar, bukan sebagai ancaman.

Dengan demikian, Indonesia membutuhkan figur pemimpin yang mampu mengorkestrasi dinamika dan irama rakyatnya, bukan menyeragamkan nada yang disukainya. Pemimpin yang mampu merajut bangsa yang kuat dari keragaman kepentingan dan cita-cita rakyatnya. Pemimpin yang pintar mendengarkan dengan suara rakyat penuh empati, sehingga membangkitkan bangsa ini untuk bergerak bersama berbekal rasa saling percaya dan saling peduli. Jika demikian, maka rakyat Indonesia akan yakin dengan kemampuan dirinya, sehingga menumbuhkan harapan dan optimisme yang menjadi bahan bakar bagi kemajuan bangsa. (Ismail Al Anshori, Mahasiswa Program Magister Studi Pembangunan ITB)

Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/06/27/seri-revolusi-mental-4-empati-menumbuhkan-optimisme-bangsa